Indonesian Indonesian
Pakhomius

Santo Pakhomius

Pakhomius Agung, Pakhomius tua

Pakhomius

Santo Pakhomius

Pakhomius Agung, Pakhomius tua




Santo Pakomius adalah bapa spiritual bagi para rahib. Ia umumnya dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan pola hidup cenobitic monastic (Rahib / Pertapa yang hidup bersama dalam sebuah komunitas) yang kemudian banyak diikuti oleh para pertapa kristen lainnya; misalnya saja Santo Benediktus.

Pakhomius lahir di Thebes, Mesir pada tahun 290 dalam sebuah keluarganya pagan yang belum mengenal Kristus. Pada umur 21 tahun ia masuk wajib militer pada dinas ketentaraan Kekaisaran Romawi. Dalam suatu ekspedisi militer di lembah sungai Nil, Pakomius dan pasukannya disambut dengan ramah oleh orang-orang Kristen di Latopolis (Esneh). Penyambutan yang penuh kasih dari orang-orang Kristen ini membawa kesan yang sangat mendalam bagi Pakhomius.

Setelah usai wajib militer, Pakhomius mendaftarkan diri sebagai katekumen (calon permandian) dan menjalani katekisasi selama tiga tahun. Pada malam menjelang pembaptisannya, ia bermimpi melihat embun turun dari langit dan dari jari-jari tangannya terpancar sinar menerangi bumi. Pengalaman inilah yang semakin menguatkan dirinya untuk memberikan seluruh hidup dan waktunya untuk Tuhan. Keesokan harinya Pakomius pun dibabtis.

Setelah dibabtis Pakhomius pergi ke padang gurun untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa.  Disana ia bertemu dengan Palameon, seorang pertapa saleh yang menjalani pola hidup asketis yang keras seturut teladan Santo Anthonius. Melihat tekad dan ketahanan mental Pakhomius, Palameon menerimanya sebagai murid dan memperkenankannya mengenakan pakaian pertapa. Pakomius lalu tinggal dan belajar bersama Palameon selama tujuh tahun. 

Pada suatu hari, saat sedang khusuknya berdoa; Pakhomius mendengar suara Tuhan yang menyuruhnya untuk mendirikan sebuah biara bagi para pertapa di Tabennisi, ditepi sungai Nil. Dengan patuh Pakomius mengikuti perintah Tuhan tersebut. Ia mendirikan biara pertama antara tahun 318 atau 323 di Tabennisi, Mesir.  

Kakaknya Yohanes kemudian bergabung dalam biara menjadi seorang rahib. Selanjutnya Para pertapa di sekitar Tabennisi satu demi satu ikut bergabung. Segera saja biara itu dihuni oleh lebih dari 100 rahib dari sekitar Tabennisi.  Bila sebelumnya para pertapa Kristen hidup sendiri-sendiri dan terpisah-pisah, digubuk-gubuk atau didalam gua; kini mereka dapat hidup bersama dalam suatu komunitas dibawah bimbingan Pakhomius. Tanpa disadarinya Santo Pakhomius telah menciptakan komunitas perdana dari para rahib Cenobit, di mana para pertapa hidup bersama dan dipimpin oleh seorang kepala biara.

Banyak orang dari berbagai kalangan datang padanya dan ingin menjadi rahib. Karena itu bagi mereka yang baru meninggalkan dunia ramai, Pakhomius mewajibkan mereka untuk terlebih dahulu menjalani masa perkenalan dan adaptasi dengan pola hidup membiara. Bagi para “pemula” ini, Pakhomius terlebih dahulu memberikan latihan-latihan spiritual bagi mereka.  Masa perkenalan dan latihan hidup membiara bagi mereka yang baru bergabung ini, kelak setelah mengalami banyak perkembangan, dikenal sampai saat ini sebagai Masa Novisiat

Masyarakat dan para rahib dalam biara sangat mencintai Pakhomius. Mereka semua menyebutnya sebagai  "Abba" (ayah). Inilah asal mula sebutan “Abbas”  (Inggris = Abbot) bagi para kepala biara.

Biara di Tebennisi menjadi semakin ramai oleh para rahib yang jumlahnya terus bertambah. Walau sudah diperbesar beberapa kali, namun tetap saja penuh. Karena itu Santo Pakhomius kemudian mendirikan biara yang kedua di Pabau pada tahun 336. Setelah itu ia masih mendirikan lagi enam buah biara.

Pada tahun 333 Santo pakhomius menerima kunjungan dari Uskup Alexandria saat itu; Santo Athanasius Agung. Bapa Gereja ini sangat terkesan dengan karya Pakhomius dan  berterimakasih atas peran para rahib dalam melawan ajaran sesat Arianisme.  

Seorang Bapa Gereja yang lain, Santo Basilius Agung, juga mengunjungi Pakhomius. Santo Basilius mempelajari banyak ide Pakhomius yang kemudian diadaptasikan dan diterapkan pada biara – biara yang didirikannya di Caesarea dan Konstantinopel.  Aturan hidup membiara yang ditulis oleh Santo Pakhomius, masih digunakan sampai hari ini oleh Gereja Koptik dan Gereja – gereja Ortodoks Timur.

Santo Pakhomius tetap menjadi abbas bagi para rahib sampai pada hari kematiannya pada tanggal 9 Mei 348.


  • Hits
    3427
  • Diterbitkan
    13 May 2014
  • Diperbaharui
    15 April 2017
  • Referensi
  • Tags
    Abbas - Afrika - Arianisme - Mesir - Mistikus - Orang kudus gereja perdana - Pertapa

  • Arti nama

    Berasal dari nama Mesir kuno "Pakhom" yang berarti :  "Elang"

    Variasi Nama

    Pachomius, Pachome, Pachom, Pachoum, Pachum, Pahom, Pakhoum, Pakhum, Bakhoum, Bakhum


    Pilih Topik